IndoInsight.com –
Lebih dari 19 juta warga Taiwan yang memenuhi syarat akan menggunakan hak pilih mereka pada hari Sabtu ini untuk memilih pemimpin dan anggota parlemen baru pulau itu. Pemilu ini berlangsung di tengah tantangan ekonomi domestik dan peningkatan ancaman Tiongkok terhadap pulau yang memerintah sendiri tersebut.
Ada tiga kandidat yang bersaing untuk kursi presiden: William Lai Ching-te, wakil presiden Taiwan saat ini yang mewakili Partai Progresif Demokratik (DPP) yang skeptis terhadap Tiongkok; Hou Yu-ih, walikota New Taipei dari Kuomintang (KMT) yang ramah terhadap Tiongkok; dan mantan walikota Taipei Ko Wen-je dari Partai Rakyat Taiwan (TPP) yang lebih baru.
Meski 63 persen warga Taiwan mengidentifikasi diri mereka sebagai orang Taiwan, klaim Tiongkok atas pulau itu tidak bisa diabaikan. Ketegangan geopolitik yang meningkat antara kedua pihak dan potensi intervensi Tiongkok dalam pemilu adalah isu utama yang diperdebatkan.
Kubu DPP, yang saat ini berkuasa, mengadvokasi kebijakan “kemandirian strategis” dan mempertahankan jarak dari Tiongkok. Mereka berjanji untuk meningkatkan pertahanan dan memperkuat hubungan dengan sekutu internasional, terutama Amerika Serikat.
Sebaliknya, KMT mendorong hubungan yang lebih dekat dengan Tiongkok dan pendekatan yang lebih akomodatif. Hou Yu-ih, kandidat KMT, menyerukan dialog dan kerja sama dengan Tiongkok untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas regional.
TPP, di bawah Ko Wen-je, mengambil pendekatan pragmatis dan berfokus pada masalah domestik seperti infrastruktur dan ekonomi. Namun, keterbukaan partai terhadap hubungan dengan Tiongkok juga menjadi bahan perdebatan.
Meskipun identitas nasional Taiwan kuat, kekhawatiran tentang ekonomi yang rapuh dan ancaman Tiongkok dapat memengaruhi keputusan pemilih. Kenaikan harga dan perlambatan pertumbuhan ekonomi membebani DPP, sementara retorika agresif Tiongkok dan manuver militer di dekat Taiwan menguntungkan KMT.
Namun, para ahli memperingatkan bahwa dampak sentimen terhadap Tiongkok terhadap hasil pemilu sulit diprediksi. Diperkirakan bahwa isu-isu domestik seperti inflasi dan kebijakan sosial mungkin memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan pilihan pemilih.
Pemilu Taiwan 2024 menarik perhatian global karena implikasinya terhadap stabilitas regional dan hubungan yang semakin tegang antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Siapa pun yang terpilih sebagai presiden Taiwan akan menghadapi tantangan berat dalam menyeimbangkan kebutuhan keamanan nasional, pertumbuhan ekonomi, dan aspirasi rakyat Taiwan untuk berdaulat dan memiliki identitas nasional yang unik.
Bagaimanapun, pemilu ini adalah bukti nyata kemunculan demokrasi Taiwan dan tekad rakyatnya untuk menentukan masa depan mereka sendiri. Perjalanan selanjutnya Taiwan, apakah sebagai “negara yang bukan negara” atau entitas politik yang semakin diakui secara internasional, akan ditentukan oleh suara-suara yang dikumpulkan pada hari Sabtu nanti.