IndoInsight.com –
Tentara bayaran Wagner menjadi sorotan setelah mengumumkan rencananya untuk menyerang ibu kota Rusia, Moskow. Yevgeny Prigozhin, bos kelompok ini, sebenarnya merupakan sekutu dekat Presiden Vladimir Putin.
Pasukan Wagner saat ini mengklaim telah menguasai fasilitas militer dan lapangan terbang di Rostov, Rusia. Kremlin telah meningkatkan kewaspadaan.
Putin menanggapi tindakan Prigozhin dengan menyebutnya pengkhianatan dan penyerangan terhadap rakyat Rusia.
Namun, mengapa Wagner tiba-tiba berbalik mengkhianati Putin?
Menurut Institut Studi Perang, sebuah lembaga pemikir berbasis di Washington, aksi Wagner bertujuan untuk melawan Kementerian Pertahanan Rusia.
“Ini merupakan upaya Prigozhin untuk melawan kepemimpinan Kementerian Pertahanan Rusia dan secara paksa menggulingkan mereka dari kekuasaan,” kata lembaga tersebut, seperti yang dikutip oleh Associated Press.
Mereka menjelaskan bahwa pasukan Wagner kemungkinan sedang melawan komando Distrik Militer Selatan di Rostov-on-Don, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa mereka juga bisa memberontak di Moskow.
Namun, lembaga tersebut juga memperingatkan bahwa pemberontakan yang dilakukan oleh Prigozhin tidak akan diterima oleh Putin, meskipun keduanya memiliki hubungan dekat.
Michael Kofman, seorang pengamat politik Rusia di Virginia, menyatakan bahwa tindakan Prigozhin merupakan tindakan putus asa.
“Apakah Prigozhin melakukannya sendirian atau apakah ada orang penting lain yang ikut dengannya, saya ragu hal ini akan berakhir baik bagi dia maupun Wagner,” katanya.
Sebelum pemberontakan ini, Prigozhin telah menuduh pasukan Rusia menyerang kamp Wagner dan menewaskan banyak anggota pasukan. Ia bersumpah untuk membalas dendam dan berencana menyerbu Moskow.
“Mereka dengan curang menipu kami, mencoba mencabut hak kami untuk mempertahankan tanah kami dan malah memburu pasukan Wagner,” kata Prigozhin dalam pesan suara yang diunggah di Telegram, seperti yang dikutip oleh Reuters.
Prigozhin juga menyatakan bahwa Wagner siap untuk menyerah kepada Kementerian Pertahanan Rusia dan menyerahkan senjata mereka.
“Tetapi orang-orang jahat ini tidak ingin berhenti menyerang Wagner,” tambahnya. Prigozhin menganggap bahwa tindakan militer Rusia merupakan kejahatan yang harus dihentikan.
Prigozhin telah beberapa kali menuduh Shoigu dan Gerasimov, Menteri Pertahanan Rusia, tidak kompeten dalam menghadapi perang di Ukraina. Mereka juga dituduh tidak memberikan cukup amunisi kepada pasukan Wagner dan tidak mendukung mereka.
Dalam salah satu rekamannya, Prigozhin semakin keras dalam mengkritik militer Rusia. Ia bahkan tidak mendukung invasi Rusia ke Ukraina.
“Kementerian Pertahanan sedang mencoba menipu masyarakat dan presiden dengan menceritakan kisah tentang agresi gila yang dilakukan pasukan Ukraina,” kata Prigozhin, seperti yang dikutip oleh Al Jazeera.
Dia melanjutkan, “Mereka berencana menyerang kami dengan dukungan penuh dari NATO. Operasi khusus ini dimulai dengan alasan yang berbeda.”
Prigozhin juga menyatakan bahwa perang di Ukraina hanya diperlukan agar Shoigu mendapatkan penghargaan.
“Perang diperlukan agar Shoigu bisa menjadi panglima tertinggi dan mendapatkan medali ‘Pahlawan’ Rusia kedua. Perang tidak diperlukan untuk demiliterisasi atau denazifikasi Ukraina,” katanya.
Rusia menggunakan alasan demiliterisasi dan denazifikasi saat melakukan invasi di Ukraina.
Beberapa pengamat sebelumnya mencurigai bahwa Prigozhin memiliki ambisi untuk mendapatkan posisi dalam pemerintahan Rusia.
Joana de Deus Pereira, seorang peneliti senior dari lembaga pemikir Royal United Service Institute (RUSI) di Inggris, mengatakan bahwa Prigozhin menganggap dirinya memiliki peran penting di Kremlin.
“Prigozhin melihat dirinya sebagai seorang menteri pertahanan atau seseorang dengan profil tinggi di Kremlin. Setidaknya, dia ingin diperhatikan dan dihargai atas apa yang telah dia lakukan bagi negara,” kata Pereira pada bulan Februari, seperti yang dikutip oleh Newsweek.
Lebih lanjut, Pereira menyatakan bahwa hubungan antara Prigozhin dan Kremlin mulai retak ketika dia mulai muncul sebagai solusi militer dan solusi politik.
“Dia [Prigozhin] ingin diakui atas prestasinya, tetapi jika dia menyatakan aspirasi politiknya, itu akan berujung pada kematiannya,” ujar Pereira.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Vlad Mykhnenko, seorang pakar transformasi Eropa Timur pasca-komunis dari Universitas Oxford. Menurutnya, Prigozhin tampaknya ingin memiliki peran publik yang lebih besar di Rusia.
“Dia tidak puas hanya menjadi kontraktor bayangan swasta. Ia tampaknya menginginkan sesuatu yang lebih, pekerjaan publik yang lebih serius,” kata Mykhnenko.
Selama beberapa bulan terakhir, pasukan Wagner terlibat dalam pertempuran di Bakhmut, Ukraina timur, yang merupakan salah satu medan pertempuran paling intens selama invasi.
Pada awal Juni, Prigozhin mengumumkan penarikan pasukan Wagner dari seluruh Ukraina dan menyerahkan garis depan kepada Kementerian Pertahanan Rusia. Pada saat itu, dia mengklaim bahwa Wagner telah mencapai apa yang dijanjikan oleh kedua belah pihak.
Namun, tidak jelas wilayah mana yang dimaksud dan apa isi persetujuan antara Wagner dan Rusia.
Setelah menarik pasukannya, Wagner semakin aktif dalam mengkritik militer Rusia, termasuk Menteri Pertahanan. Ia bahkan memuji pasukan Ukraina dan menyebut bahwa pasukan Rusia dapat dikalahkan di medan perang.