IndoInsight.com –
Para mahasiswa Jerman yang memprotes perang Israel di Gaza dicap sebagai “simpatisan teroris” dan menyatakan hak kebebasan berbicara mereka sedang diserang.
Polisi Jerman dilaporkan menggunakan kekerasan untuk membubarkan demonstrasi mahasiswa. Beberapa mahasiswa mengaku ditinju, dicekik, dan ditendang oleh aparat.
Cecilia, seorang mahasiswa program sarjana di Free University Berlin, mengatakan, “Kita sedang menyaksikan ancaman besar terhadap kebebasan akademis – dan ini sudah dimulai sejak awal perang Israel di Gaza.”
Menurut laporan, polisi kemudian mengusir lebih dari 150 orang dari lokasi demonstrasi dan menangkap 25 orang dengan dugaan melakukan tindak pidana. Seorang mahasiswa yang ikut demonstrasi mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kepalanya dipukul berulang kali dan ditendang oleh polisi hingga membuatnya gegar otak dan harus dirawat di rumah sakit.
Selain mahasiswa, seorang jurnalis video bernama Ignacio Rosaslanda yang sedang meliput kejadian untuk Berliner Zeitung juga turut menjadi korban kekerasan polisi. Ia mengaku dipukuli petugas meskipun sudah mengenalkan diri sebagai jurnalis, dan aksesnya untuk mendapatkan perawatan medis dipersulit selama beberapa jam.
Laporan ini menimbulkan kontroversi dan memicu pertanyaan mengenai tindakan kepolisian Jerman yang dinilai terlalu represif.